Mendekati acara malam penganugerahan Grammy Awards ke-62, CEO The Recording Academy, Deborah Dugan, malah dihentikan dari jabatannya. Dia tidak tinggal diam.
Ia melayangkan protes atas perlakukan yang dirasanya tidak adil itu pada Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) Amerika Serikat.
Dalam laporan protesnya, Dugan menjelaskan sepanjang pimpin The Recording Academy, dianya mendapatkan perlakukan diskriminatif serta seksis. Dia melihat serta ikut jadi korban pelecehan seksual.
Baca Juga : Puisi Baru
Menyikapi hal tersebut, The Recording Academy menyanggah tentang skandal yang dibeberkan Debora Dugan.
Menurut dia, Deborah dicutikan dari Recording Academy bukan lantaran terdapatnya lobi-lobi dibawah tangan dari beberapa pejabat lelaki, tetapi lebih sebab dia lakukan kekeliruan resmi.
Diambil dari NBC News, keluhan tentang kepemimpinan Deborah Dugan dikirimkan oleh asisten Neil Portnow yang memandang style manajemen Dugan mengintimidasi.
The Recording Academy lantas keluarkan pengakuan, "Benar-benar aneh Dugan belum pernah ajukan dakwaan serius (pada kami) sampai satu minggu sesudah klaim diserahkan kepadanya dengan pribadi oleh karyawan yang menjelaskan jika Dugan sudah membuat lingkungan kerja yang beracun, kasar, serta intimidatif."
"Dugan dicutikan dengan administratif sebab menawar mundur serta tuntut US$ 22 juta dari Recording Academy yang disebut organisasi nirlaba," catat info itu memberikan tambahan.
Baca Juga : Pengertian Puisi Baru
Jika pada laporan protesnya Dugan menjelaskan dianya pernah menyurati kepala SDM (HRD) tentang perlakuan seksisme, diskriminatif, serta lobi-lobi curang bawah tangan pada Desember 2019, The Recording Academy malah menjelaskan jika Dugan minta departemen SDM tidak ikut serta dalam urusannya.
Menyikapi pengakuan faksi The Recording Academy, kuasa hukum Dugan juga menyanggah hal tersebut. Menurut dia, dakwaan yang dikirimkan pada Dugan tidak benar.
"Dugan berkali-kali ajukan kekhawatirannya selama hidup jabatannya di yayasan (pada sisi SDM) serta dia serta memberi fokusnya pada masalah keberagaman serta inklusivitas di rapat dewan," papar kuasa hukum Dugan.
Sedang klaim yang menjelaskan Dugan disebutkan tuntut US$ 22 juta dipandang benar-benar tidak bernar.
Diambil saat interviu dengan New York Times yang berjalan sebelum Dugan melayangkan laporan protesnya, dua anggota emeritus The Recording Academy, Mason serta Christine Albert mengutarakan gagasannya tentang Deborah Dugan.
Menurut keduanya, ada intensi dari Dugan untuk mengubah di badan The Recording Academy. Namun Dugan bergerak begitu cepat serta tidak coba pahami bagaimanakah cara kerja serta berjalannya organisasi itu yang sudah abadi sejauh ini.
Baca Juga : Puisi Baru Adalah
Dugan dipandang malas dengarkan input dari karyawan yang lain. "Apa yang kami kehendaki ialah perkembangan tanpa perselisihan," kata Albert.
Walau bersilat lidah, tetapi faksi Recording Academy menjelaskan faksinya akan mengutus team berdiri sendiri untuk menyelidik semua masalah yang dituduhkan oleh Dugan.
Dalam laporannya, Dugan menuduhkan terdapatnya 'boys club' yang bekerja bersama untuk memperkaya diri kita, bikin rugi wanita serta merekayasa pengambilan suara untuk juara Grammy.
Dia menyebutkan terdapatnya aksi pelecehan seksual yang dirasakan olehnya yang dikerjakan oleh penasihat serta bekas anggota dewan yayasan, Joel Katz, serta pemerkosaan pada artis wanita yang dikerjakan oleh bekas CEO Grammy, Neil Portnow.

No comments:
Post a Comment