Wednesday, October 9, 2019

Pengacara Bantah Soenarko Terlibat Rencana Merusuh di Aksi Mujahid 212

Seseorang pensiunan PNS Mulyono yang diamankan berkaitan gagasan keonaran di Tindakan Mujahid 212, Sabtu, 28 September lalu, ungkap terdapatnya keterkaitan Mayjen (Purn) Soenarko. Faksi Soenarko menangkis pernyataan Mulyono itu.

"Saya telah klarifikasi dengan Pak Soenarko lewat perbincangan telephone 6 menit waktu lalu, jika narasi saudara Mulyono di detik.com tidak benar terdapatnya, demikian," kata Pengacara Mayjen (Purn) Soenarko, Ferry Firman Nurwahyu, waktu dihubungi, Rabu (9/10/2019).



Mulyono awalnya menerangkan, semula ia berjumpa dengan Seonarko saat interviu spesial dengan detikcom di Polda Metro Jaya, Rabu (9/10). Waktu itu, Mulyono yang terhimpun dalam 'Majelis Berkebangsaan Pancasila Nusantara (MKPN) pada 20 September 2019.

Baca Juga : Akuntansi Manajemen

"Sebab kita di Majelis Berkebangsaan Pancasila Nusantara kita diundang Pak Prof Insani dari Ekonom UI, diundang dengan Pak Narko (Soenarko) di tempat tinggalnya beliau. Tanggal 20 di tempat tinggalnya Pak Narko," kata Mulyono.

Mulyono akui ia waktu itu tidak tahu apa yang dibahas. Tetapi selanjutnya didapati jika pertemuan itu mengulas pergerakan dari aktivis Sri Bintang Terakhir (SBP) untuk menjatuhkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Waktu undangan pertama kita tidak tahu apa yang akan dibahas, saat perbincangan mereka akan selenggarakan pergerakan itu yang mengangkat pergerakan Sri Bintang Terakhir. Nah itu disampaikan bagaimana turunkan Jokowi, bagaimana menampik, bagaimana kembali pada UUD 1945," papar Mulyono.

Baca Juga : Pengertian Akuntansi Manajemen

Mulyono akui tidak sepaham dengan gagasan pergerakan itu. Dia juga mengatakan, ia menampik gagasan Sri Bintang itu.

"Nah, kita katakan jika kita bukan di daerah itu. Kita membuka di daerah kenegaraan dalam pengertian kita tidak berkait dengan turunkan rezim. Yang kita ganti bukan turunkan rezim, tetapi membuat skema atau ganti skema. Jadi kita tolak waktu itu," jelasnya.

Dia mengatakan, pertemuan itu didatangi oleh seputar 15 orang. Tidak hanya Soenarko, Mulyono menyebutkan kedatangan Lakda (Purn) Sony Santoso pada pertemuan tersebut.

"Pak Sri Bintang tidak ada disana. Yang ada itu Pak Slamet, saya dan sebagainya ada yang dari UI, Pak Narko, Pak Sony ada pula beberapalah orang, di antara 10-15 orang," katanya.

Ditengah-tengah pertemuan itu, sambungnya, Soenarko bertanya apa antara mereka ada yang dapat membuat 'petasan'. Petasan yang disebut ialah satu bom.

Baca Juga : Akuntansi Manajemen Adalah

"Demikian di perbincangan itu Pak Narko nanya 'ada yang dapat membuat petasan nggak'. Terus kebetulan saya bertiga sama Laode sama Heriawan. Heriawan katakan 'Laode Sugiyono dapat bikin'. Heriawan itu sebenernya masuk di team kita di majelis, tetapi dari 02. Ia nyusup masuk seakan-akan ingin belajar Pancasila. Nah saat itu dipanggillah Laode Sugiyono," katanya.

"Itu saya dengar dari jauh saja mereka bicara, Sugiyono katakan 'bisa, saya pengalaman di Ambon bisa' hingga ia katakan ada saudara-saudaranya juga. Sudah semenjak itu usai," tuturnya.

No comments:

Post a Comment