Friday, September 6, 2019

Prospek Cadangan Devisa di Tengah Perlambatan Ekonomi Dunia

Bank Indonesia (BI) menyebutkan persediaan devisa Indonesia akan konstan di tersisa tahun ini. Walau memang saluran dana masuk tidak sederas enam bulan awalnya.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan, fakta kuat kenapa tidak sederas bulan awalnya sebab keadaan perekonomian global yang belum juga konstan.



Perang dagang sampai bayang-bayang krisis ekonomi global masih jadi unsur saluran dana asing yang masuk ke Indonesia tidak sederas bulan awalnya.

Baca Juga : Pengertian Gen

“Kalau lihat prospek ke depan dengan keadaan global seperti saat ini, inflow kita masih dapat expect. Tetapi memang mungkin tidak sederas 6 bulan pertama. Kita tidak mungkin sampai kesana,” katanya waktu didapati di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (6/9/2019).

Bayang-bayang krisis ekonomi global membuat banyak kebijakan negara maju seperti Amerika Serikat (AS) susah diperkirakan. Contohnya, permasalahan penurunan suku bunga referensi. Walau Bank Sentra Amerika Serikat, The Fed telah turunkan suku bunga acuannya, tetapi langkah yang akan ditempuh ke depan belum jadi agunan serta tidak ada yang dapat meramalkan.

“Karena pertama, ada dampak ekonomi AS sudah adjust kita tidak tahu ke depan akan subung turun ataukah tidak, jika sesuai dengan expect market, market reaksi mereka akan positif,” katanya.

Diluar itu, lanjut Destri, unsur lain kenapa saluran modal asing yang minim ini karena masuknya China ke global Index. Ini membuat negeri gorden bambu ini jadi satu diantara negara target investasi.

Baca Juga : Gen Adalah

“Kemudian ada masuknya China ke global index jadi satu diantara target investasi portofolio buat beberapa investor besar,” katanya.

Walau demikian, BI akan lakukan banyak hal untuk mengangkat kembali persediaan devisa. “Tapi berarti tetaplah kita akan berupaya untuk jaga cadev kita,” tegas Destri.


Jadi info, Bank Indonesia (BI) mencatat tempat persediaan devisa Indonesia di akhir Agustus 2019 sebesar USD126,4 miliar, bertambah dibanding dengan tempat di akhir Juli 2019 sebesar USD125,9 miliar.

No comments:

Post a Comment